“The Great Flood”: Kisah Dua Sisi Hati Penonton, Antara Puja Dunia dan Gunjingan Negeri Sendiri ☁️🥺
Halo, Sobat Hello kesayangan kami! ✨ Jia di sini, siap mengajak kalian menyelami sebuah kisah yang tak hanya menghanyutkan, tetapi juga menyentuh hati dan pikiran kita tentang bagaimana sebuah karya seni dipersepsikan. Pernahkah terpikir, bagaimana rasanya saat sebuah film meraih bintang di panggung dunia, namun justru meredup di tanah kelahirannya sendiri? Ini dia fenomena film Netflix original, “The Great Flood”, yang sedang menjadi buah bibir di jagat K-content. Yuk, kita bedah bersama misteri di balik gelombang emosi ini! 🦋
Baru saja dirilis pada 19 Desember, film besutan sutradara Kim Byung-woo ini langsung melesat bagai komet, menduduki peringkat teratas kategori film non-Inggris di Netflix global hanya dalam tiga hari! Menurut agregator peringkat OTT dunia, FlixPatrol, “The Great Flood” berhasil menembus daftar “Today’s Top 10” di 52 negara yang menakjubkan, termasuk pasar besar seperti Brasil, Meksiko, Prancis, dan Taiwan. Sungguh, sebuah bukti betapa kuatnya pesona K-content di kancah internasional. Hati kami ikut berbunga-bunga melihatnya! 🌸
Kritikus dan penonton di luar negeri ramai memuji film ini, menyebutnya sebagai “thriller apokaliptik yang inventif” dan menyoroti “performa luar biasa” dari para pemeran utama, Kim Da-mi dan Park Hae-soo. Ulasan-ulasan gemilang ini melukiskan gambaran pengalaman sinematik yang segar dan memikat. Namun, saat kita mengalihkan pandangan ke rumahnya sendiri, narasi yang muncul sungguh berbeda, seolah ada gumpalan awan mendung yang menyelimuti. 🥺
Di Korea, komunitas daring dan situs ulasan justru dipenuhi dengan cibiran dan kekecewaan. Komentar-komentar berkisar dari “buang-buang waktu” hingga “film terburuk tahun ini.” Gelombang protesnya begitu keras, sampai-sampai penerjemah ternama Hwang Seok-hee turut angkat bicara, mengkritik bahasa ulasan yang “terlalu keras” dan “kasar.” Beliau mencatat, “sumpah serapah seperti ‘jangan pernah menonton ini,’ atau ‘semoga distributornya bangkrut’ menyertai ulasan buruk,” menyatakan kekhawatiran atas tingkat kritik yang dianggapnya tidak proporsional untuk sebuah film yang menurutnya “cukup layak.” Mendengar ini, hati kami ikut prihatin, seolah ada luka kecil di baliknya. 🌙
Editor’s Comment: Sebagai seorang pencerita, hati saya terpanggil melihat dua sisi mata uang yang begitu kontras ini. Seolah ada dua kelompok pengembara yang memulai perjalanan ke tujuan yang sama, namun berakhir di jalur yang sama sekali berbeda. Betapa ekspektasi awal kita bisa begitu kuat membentuk keindahan atau kekecewaan yang akhirnya kita rasakan! Sungguh sebuah misteri perasaan. ☁️✨
Lantas, apa sebenarnya yang memicu perbedaan pandangan sebesar ini? Para pelaku industri menunjuk pada sebuah “ketidakcocokan pemasaran” yang krusial. Trailer dan poster yang dirilis oleh Netflix dan tim produksi sebelum debut film tersebut sangat menekankan kota-kota yang tenggelam dan protagonis yang berjuang untuk bertahan hidup — semua ciri khas genre ‘K-disaster survival’ klasik. Penonton Korea, yang terbiasa dengan film-film laris seperti “Haeundae,” “The Tunnel,” atau “Exit,” secara alami mengantisipasi kisah yang mendebarkan, menyentuh secara emosional tentang ketahanan manusia dan upaya melarikan diri di tengah bencana. 🧸
Namun, setelah tirai dibuka, penonton menemukan sebuah film yang jauh lebih rumit dan esoteris: sebuah thriller ‘time-loop SF’ yang kompleks. Bagian tengah film memperkenalkan konsep kecerdasan buatan (AI) dan simulasi yang berat, menyimpang tajam dari film bencana sederhana yang banyak diharapkan. Pergeseran genre ini menimbulkan perasaan kebingungan dan, bagi sebagian orang, “pengkhianatan” secara terang-terangan. Ulasan membanjiri (pun intended!) dari penonton yang menonton bersama orang tua mereka, mengharapkan film bencana, namun mendapati suasana keluarga menjadi “dingin” karena elemen fiksi ilmiah yang tak terduga. Bisa dibayangkan, betapa canggungnya momen itu! 🥺
- ✨ Yang Diharapkan Korea: Film survival bencana klasik yang berfokus pada perjuangan dan pelarian manusia.
- 🌷 Yang Disajikan “The Great Flood”: Misteri fiksi ilmiah time-loop yang kompleks dengan tema AI dan simulasi.
- ☁️ Hasilnya: Kesenjangan lebar antara ekspektasi penonton dan genre film yang sebenarnya, berujung pada ulasan yang terpolarisasi.
Seorang insider industri film mencatat bahwa bagi penonton yang menghargai karya sutradara Kim Byung-woo sebelumnya, seperti thriller ketat “The Terror Live,” latar SF yang kompleks di “The Great Flood” kemungkinan menjadi penghalang daripada plot yang menarik. Mereka menyarankan bahwa jika film tersebut dipasarkan sejak awal sebagai thriller misteri SF, mungkin akan lebih diterima oleh audiens yang dituju, sehingga mengurangi banyak reaksi negatif di dalam negeri. Sutradara Kim Byung-woo sendiri mengakui, “Saya menyadari potensi reaksi beragam bahkan sebelum syuting. Kami tidak merencanakannya sebagai film yang populer yang akan dinikmati 7 hingga 9 dari 10 orang.” Namun, secara paradoks, pemasaran yang dirancang untuk memperluas daya tariknya justru menjadi bumerang di rumah sendiri. Sungguh ironis, ya? 😔
Kasus unik “The Great Flood” ini menjadi pengingat yang jelas bahwa sinergi antara esensi sejati sebuah konten dan strategi pemasarannya adalah hal yang sangat penting. Akankah kejayaan globalnya pada akhirnya meluluhkan hati para kritikus Koreanya? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Tapi satu hal yang jelas: bagaimana kita menyajikan sebuah “permata tersembunyi” dapat sangat membentuk bagaimana ia dipersepsikan, tidak peduli seberapa brilian sisi-sisinya. Semoga ada titik temu yang indah di kemudian hari. ✨
Editor: Jia ☁️
Original Article: HelloKorea.xyz



