Tinjauan Analitis: ‘The Great Flood’ Netflix, Puncak Global atau Pemicu Perdebatan Sengit? 📊🧐
Halo, Sobat Hello Korea sekalian. Johan Lee hadir kembali untuk mengulas fenomena terkini di dunia K-Content. Kali ini, kita akan membahas sebuah film Korea yang berhasil menarik perhatian global namun sekaligus memicu diskusi sengit di kalangan penonton: ‘The Great Flood’.

Film bergenre fiksi ilmiah ini dibintangi oleh aktris handal Kim Da-mi dan aktor serba bisa Park Hae-soo. ‘The Great Flood’ telah mencatatkan prestasi gemilang dengan menduduki peringkat #1 secara global dalam kategori film di Netflix selama tiga hari berturut-turut, dimulai sejak tanggal 20 Desember. Pencapaian ini menegaskan kembali dominasi sinema Korea di kancah internasional, membuktikan bahwa narasi yang kuat memiliki daya tarik universal.
Menurut data dari FlixPatrol, situs pemeringkat platform OTT global, ‘The Great Flood’ berhasil masuk dalam daftar Top 10 di 93 negara. Daftar tersebut mencakup Korea Selatan, Brazil, Kanada, dan Prancis. Angka ini secara jelas menunjukkan daya tarik luar biasa dari film fiksi ilmiah Korea di seluruh dunia.
Meskipun meraih kesuksesan komersial yang signifikan, film ini menjadi objek reaksi yang sangat terpolarisasi, baik di dalam negeri maupun secara internasional. Tampaknya penonton terbagi menjadi dua kubu: mereka yang menganggapnya sebagai mahakarya SF, dan mereka yang menilainya sebagai salah satu film terburuk tahun ini. Situs kritik film pun merefleksikan perpecahan ini:
- 🍅 Rotten Tomatoes: Mendapatkan skor “Freshness” dari kritikus sebesar 54%, sementara skor audiens hanya 42%.
- 📊 IMDb: Menunjukkan skor rata-rata 5.4/10, dengan ulasan yang berkisar dari “Wajib tonton bagi penggemar SF!” (9 poin) hingga “Film terburuk yang pernah saya lihat tahun ini” (1 poin).
Mereka yang memuji film ini sering kali menyoroti orisinalitasnya yang berani dan alur narasi yang tidak terduga. Banyak penonton mengungkapkan kejutan positif, sebab mereka mengharapkan film bencana biasa, namun justru menemukan pengalaman SF yang unik dengan efek visual yang mengesankan dan pertanyaan filosofis yang provokatif. Salah satu pengulas menyatakan, “Pengembangannya ke arah yang sama sekali berbeda sungguh menakjubkan. Efek visualnya hebat, dan pertanyaan filosofisnya menarik. Jika Anda siap menerima sesuatu yang berbeda, Anda pasti akan menikmatinya!” Penonton lainnya memuji cara film ini menyampaikan cerita yang rumit, terutama apresiasi terhadap bagaimana ia menggali cara kerja internal AI.

Sebaliknya, para kritikus menyoroti akhir cerita yang membingungkan dan narasi yang kehilangan fokus, menjadi terlalu panjang dan kompleks. Poin utama perdebatan adalah pergeseran genre film—dari thriller bencana di awal menjadi penyelaman mendalam ke fiksi ilmiah. Pendapat terbelah tajam antara mereka yang berharap film tersebut tetap menjadi film bencana dan mereka yang memuji transisi inovatif ke SF. Menariknya, karakter anak-anak, Zain, juga menuai reaksi negatif yang cukup kuat dari beberapa penonton, dengan komentar seperti “Karakter anak itu terlalu menjengkelkan” atau “Film ini bisa saja terselamatkan tanpa anak itu.”
Perdebatan sengit ini tidak hanya terjadi di kalangan penonton, tetapi juga telah mencapai industri perfilman itu sendiri. Penulis Heo Ji-woong melalui media sosialnya pada tanggal 23 Desember mengungkapkan rasa frustrasinya atas kritik ekstrem, membandingkannya dengan ulasan aplikasi pengiriman yang keras. Sutradara Kim Byung-woo sendiri menyatakan dalam sebuah wawancara pada tanggal 22 Desember bahwa ia tidak menciptakan film ini dengan harapan 7 hingga 9 dari 10 orang akan menyukainya, mengakui potensi reaksi terpolarisasi sejak awal. Aktor Park Hae-soo juga menyampaikan perasaannya pada 23 Desember, mengatakan, “Ini menyakitkan, tetapi kami harus tetap melangkah maju.”
Pada intinya, ‘The Great Flood’ dimulai dengan perjuangan peneliti AI Anna untuk melindungi putranya, Zain, di tengah banjir dahsyat. Namun, film ini dengan cerdik berkembang menjadi simulasi AI yang rumit yang berfokus pada pelatihan ‘mesin emosi’ untuk manusia sintetis, menjalani 21.000 pengulangan untuk mencapai narasi kompleksnya. Dari segi produksi, tim menggunakan teknik ‘Dry for Wet’ yang sangat menantang, merekam aktor di studio yang dipenuhi asap untuk secara realistis menggambarkan air, sebuah inovasi teknis yang menuai banyak pujian. Sutradara Kim Byung-woo mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Kim Da-mi atas dedikasinya, menyatakan, “Saya bahkan tidak bisa melakukan kontak mata dengannya karena dia sangat menderita dari bulan Juli hingga Januari.”
Sebagai seorang analis, saya melihat bahwa penerimaan ‘The Great Flood’ ini adalah studi kasus menarik tentang bagaimana seni yang ambisius dapat memecah belah. Ketika sebuah karya berani melampaui ekspektasi genre dan menawarkan konsep yang kompleks, polarisasi adalah konsekuensi yang sering tak terhindarkan. Ini bukan semata-mata kegagalan atau keberhasilan, melainkan indikasi bahwa film tersebut berhasil memprovokasi pemikiran dan emosi yang mendalam, meskipun tidak selalu searah. 🧐
Meskipun berhasil menjadi #1 global, ‘The Great Flood’ tetap berada di pusat diskusi yang hangat, dipuji atas “potensinya untuk SF Korea yang orisinal” namun dikritik karena “kebingungan narasi akibat ambisi berlebihan.” Film ini menuntut perhatian Anda, memicu percakapan, dan menantang penceritaan tradisional. Kami mendorong semua K-Fans global untuk menontonnya dan membentuk opini Anda sendiri yang berimbang. Bagaimana menurut Anda? Berikan komentar di bawah! ✅
Editor: Analyst Johan 🖊️
Original Article: HelloKorea.xyz